Akademik & Riset

AI Bukan Penghancur Pendidikan, Sal Khan Tawarkan Tutor Pribadi untuk Semua

10 Agustus 2026, 13:39 WIB / Aji Krisna Bayu
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Perdebatan mengenai AI dalam pendidikan sering berpusat pada risiko kecurangan, plagiarisme, dan ketergantungan siswa terhadap teknologi. Namun, Sal Khan, pendiri Khan Academy, melihat persoalan tersebut dari perspektif berbeda. Menurutnya, kecerdasan buatan justru berpotensi menjadi salah satu teknologi paling transformatif dalam sejarah pendidikan apabila dikembangkan dan digunakan secara bertanggung jawab.

Visi yang ditawarkan cukup ambisius: setiap siswa dapat memiliki tutor pribadi berbasis AI, sementara setiap guru memperoleh asisten pengajar yang mampu membantu pekerjaan mereka. Teknologi tersebut diharapkan dapat membuat pembelajaran personal yang selama ini mahal dan sulit diterapkan secara luas menjadi lebih mudah diakses.

Gagasan ini berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai "Masalah Dua Sigma" atau Two Sigma Problem. Penelitian pendidikan menunjukkan bahwa pembelajaran dengan tutor individual dapat menghasilkan peningkatan prestasi yang sangat besar dibandingkan pembelajaran kelas konvensional. Persoalannya, model satu guru untuk satu siswa sulit diterapkan secara massal karena keterbatasan biaya dan sumber daya manusia.

Khanmigo: Bukan Sekadar Chatbot Pendidikan

Khanmigo: Bukan Sekadar Chatbot Pendidikan

Salah satu upaya Khan Academy mewujudkan visi tersebut adalah Khanmigo. Teknologi ini dikembangkan bukan sebagai alat untuk memberikan jawaban instan, tetapi sebagai pendamping belajar yang mendorong siswa berpikir secara mandiri.

Pendekatan Tutor Sokratik

Khanmigo menggunakan pendekatan yang menyerupai metode Sokratik. Ketika siswa menghadapi persoalan, AI tidak selalu langsung memberikan solusi. Sebaliknya, siswa diarahkan melalui pertanyaan yang membantu mereka menemukan langkah penyelesaian sendiri.

Pendekatan tersebut penting karena tujuan pendidikan bukan sekadar memperoleh jawaban benar. Proses memahami konsep, menguji alasan, menemukan kesalahan, dan memperbaiki pemikiran merupakan bagian penting dari pembentukan kemampuan berpikir kritis.

Memahami Kesalahan Siswa

Kekuatan AI dalam pembelajaran personal juga terletak pada kemampuannya membaca konteks percakapan. Dalam matematika atau pemrograman, misalnya, AI dapat membantu mengidentifikasi bagian penalaran yang keliru dan meminta siswa menjelaskan bagaimana mereka sampai pada suatu kesimpulan.

Pola tersebut membuat proses belajar lebih diagnostik. Siswa tidak hanya mengetahui bahwa jawabannya salah, tetapi juga memperoleh kesempatan memahami mengapa kesalahan tersebut terjadi.

Menghubungkan Pelajaran dengan Kehidupan Siswa

Salah satu tantangan pendidikan adalah pertanyaan sederhana yang sering muncul dari siswa: "Mengapa saya harus mempelajari ini?"

AI dapat membantu menjembatani kesenjangan antara materi akademik dan kehidupan nyata. Konsep biologi, misalnya, dapat dikaitkan dengan ketertarikan siswa terhadap olahraga atau cita-cita profesional tertentu. Hubungan tersebut membuat materi yang semula abstrak menjadi lebih relevan secara personal.

Belajar melalui Interaksi

Pembelajaran juga dapat dibuat lebih interaktif. Siswa dapat berdialog dengan karakter dalam karya sastra atau tokoh sejarah untuk mengeksplorasi perspektif, motivasi, dan konteks suatu peristiwa.

Model semacam ini berpotensi memperluas pengalaman belajar. Buku teks tidak lagi menjadi satu-satunya ruang interaksi karena siswa dapat menggunakan percakapan sebagai sarana untuk menguji pemahaman dan membangun pertanyaan baru.

AI sebagai Mitra Menulis dan Berdebat

Dalam kegiatan menulis, AI juga dapat diarahkan agar tidak mengambil alih pekerjaan siswa. Model kolaboratif memungkinkan siswa menyusun gagasan sendiri, kemudian memperoleh masukan mengenai struktur, kejelasan argumen, atau kelemahan draf.

Pendekatan tersebut berbeda dari penggunaan AI untuk menghasilkan tugas secara penuh. Siswa tetap menjadi pemilik gagasan dan proses intelektual, sementara AI berperan sebagai mitra yang memberikan umpan balik.

AI juga dapat berfungsi sebagai rekan debat. Siswa dapat menguji sebuah argumen, menghadapi sudut pandang berbeda, kemudian memperbaiki alasan yang mereka gunakan. Lingkungan seperti ini berpotensi membantu siswa berlatih tanpa tekanan sosial yang terkadang muncul ketika berdiskusi di depan orang lain.

Guru Tetap Memegang Peran Utama

Transformasi pendidikan berbasis AI tidak berarti guru menjadi tidak relevan. Justru, salah satu gagasan utama Sal Khan adalah menjadikan AI sebagai asisten agar guru dapat kembali memusatkan perhatian pada aspek pendidikan yang membutuhkan hubungan manusia.

Mengurangi Beban Administratif

AI dapat membantu guru menyusun rencana pembelajaran, menyiapkan materi, membuat aktivitas kelas, hingga membantu merangkum perkembangan belajar siswa. Otomatisasi pekerjaan administratif dapat mengurangi waktu yang harus dihabiskan guru untuk tugas rutin.

Waktu yang tersedia kemudian dapat digunakan untuk memberikan bimbingan, membangun hubungan dengan siswa, memahami kebutuhan mereka, dan menciptakan suasana kelas yang lebih manusiawi.

Teknologi Membutuhkan Guardrails

Teknologi Membutuhkan Guardrails

KONSULTASI GRATIS SEKARANG

Potensi besar AI tidak berarti teknologinya bebas dari risiko. Sistem AI tetap dapat menghasilkan informasi yang keliru, memberikan respons yang tidak sesuai konteks, atau digunakan secara tidak bertanggung jawab.

Karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan membutuhkan guardrails atau batasan yang jelas. Sistem perlu dirancang agar mendorong proses belajar, bukan menggantikan proses berpikir siswa.

AI untuk Meningkatkan Kecerdasan Manusia

Gagasan yang ditawarkan Sal Khan pada akhirnya bukan menjadikan AI sebagai pengganti manusia. Tujuannya adalah memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memperkuat kecerdasan manusia atau human intelligence.

Pendekatan tersebut membutuhkan keterlibatan aktif sekolah, guru, orang tua, siswa, pengembang teknologi, dan pembuat kebijakan. Masa depan AI dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologinya, tetapi juga oleh keputusan manusia dalam menetapkan tujuan, batasan, dan nilai yang harus dijaga.

Kesimpulan

Visi Sal Khan menempatkan AI bukan sebagai ancaman yang harus dijauhi, melainkan sebagai teknologi yang perlu diarahkan secara bertanggung jawab. Kehadiran tutor pribadi berbasis AI dapat membuka peluang pembelajaran yang lebih personal, sementara asisten digital dapat membantu guru mengurangi pekerjaan rutin.

Khanmigo menunjukkan salah satu pendekatan yang dapat digunakan: AI tidak harus memberikan jawaban, tetapi dapat membimbing siswa untuk menemukan jawaban melalui proses berpikir. Tantangan terbesar ke depan bukan sekadar membuat AI semakin pintar, melainkan memastikan kecerdasannya digunakan untuk memperluas potensi manusia, memperkuat peran guru, dan menciptakan pendidikan yang lebih personal serta inklusif.

FAQ

  1. Apa visi Sal Khan tentang AI dalam pendidikan? Visi utamanya adalah menyediakan tutor pribadi cerdas bagi setiap siswa dan asisten pengajar bagi setiap guru.
  2. Apa itu Khanmigo? Khanmigo adalah alat AI dari Khan Academy yang dirancang untuk mendukung proses belajar melalui bimbingan interaktif.
  3. Apakah Khanmigo memberikan jawaban langsung kepada siswa? Pendekatannya dirancang untuk membimbing siswa melalui pertanyaan dan penalaran, bukan sekadar memberikan jawaban akhir.
  4. Bagaimana AI dapat membantu guru? AI dapat membantu persiapan pembelajaran, pembuatan materi, penilaian, dan pekerjaan administratif sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan siswa.
  5. Mengapa AI membutuhkan guardrails dalam pendidikan? Batasan diperlukan agar AI digunakan untuk mendukung pembelajaran dan penalaran siswa, bukan menjadi alat kecurangan atau menggantikan proses berpikir manusia.

Sumber : https://youtu.be/hJP5GqnTrNo?si=DIOn1aSFcOLFBvb0

Topik Terkait

Trending Hari Ini