Semarang, Kampus Times - Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Semarang (FKG UNIMUS) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengeskalasi kualitas akademik dan praktik klinis tingkat internasional. Dalam gelaran simposium internasional DSEMAR 2026 yang berlangsung di Semarang pada 29 Juli 2026, FKG UNIMUS menghadirkan pakar terkemuka dari Mahidol University, Thailand, yaitu Dr. Cheewin Towithelertkul.
Acara bertaraf internasional ini mengangkat topik yang sangat relevan dan mutakhir dalam dunia kedokteran gigi moderen, yakni "Craniofacial Rehabilitation: The Use of Magnetic Attachment". Kehadiran pakar internasional ini menjadi magnet bagi para akademisi, praktisi spesialis, hingga mahasiswa yang ingin memperdalam wawasan mengenai pemulihan cacat kompleks pada area wajah dan rongga mulut.
Pengalaman Klinis Pusat Rehabilitasi Kanker Thailand
Dalam sesi utamanya, Dr. Cheewin membagikan rekam jejak dan pengalaman klinis mendalam dari pusat rehabilitasi kanker terkemuka di Thailand yang telah beroperasi secara konsisten sejak tahun 2014. Pusat pelayanan ini berfokus pada pemulihan struktur stomatognatik dan kraniofasial pasien yang mengalami kerusakan akibat tindakan reseksi tumor, trauma, maupun kelainan kongenital.
Pemulihan dilakukan melalui pembuatan prostesis permanen maupun lepas-pasang yang presisi. Pendekatan ini dirancang khusus untuk mengembalikan dua aspek vital pasien, yaitu fungsi fisiologis (seperti mengunyah dan berbicara) serta estetika visual akibat cacat intraoral (maksila, palatum lunak, dan mandibula) maupun cacat ekstraoral (prostesis wajah dan okular).
Keunggulan Teknologi Magnetic Attachment Dibandingkan Metode Konvensional

Salah satu mata acara yang paling menyedot perhatian peserta DSEMAR 2026 adalah evaluasi komparatif mengenai teknik dan teknologi retensi prostesis kraniofasial. Dr. Cheewin menjelaskan secara terperinci mengapa sistem magnetic attachment kini menjadi salah satu solusi unggulan dan paling diminati di ranah rehabilitasi kraniofasial.
Sistem magnetic attachment menawarkan tingkat kepraktisan yang signifikan bagi pasien. Fitur self-aligning yang dimilikinya memudahkan pasien dalam proses pemasangan dan pelepasan prostesis mandiri di rumah. Selain itu, proses fabrikasi laboratorium yang lebih efisien menjadikannya opsi yang sangat adaptif bagi kebutuhan klinis harian.
Tantangan Metode Bar and Clip di Wilayah Tropis
Sebagai pembanding, Dr. Cheewin menyandingkan sistem magnetik dengan metode konvensional bar and clip. Meskipun sistem bar and clip memiliki reputasi baik dalam hal distribusi beban retensi yang kuat, metode tersebut menyimpan sejumlah kendala teknis dan ekonomis.
Metode bar and clip membutuhkan biaya fabrikasi yang relatif mahal serta pengerjaan teknis tingkat tinggi dari tim laboratorium. Selain itu, pasien sering kali mengalami kesulitan dalam menjaga kebersihan di sekitar struktur bar. Kondisi ini menjadi sangat krusial di wilayah beriklim tropis yang lembap seperti Indonesia dan Thailand. Lingkungan lembap berisiko tinggi memicu penumpukan sekresi kulit dan infeksi bakteri di area abutment, yang berpotensi menyebabkan kegagalan implan secara permanen.
Pentingnya Sinergi dan Kerja Sama Tim Interdisipliner

Di samping aspek teknis dan pemilihan material prostesis, Dr. Cheewin menekankan bahwa kunci keberhasilan penanganan kasus kraniofasial kompleks terletak pada komitmen interdisipliner. Keberhasilan klinis tidak dapat berdiri sendiri hanya dengan mengandalkan keunggulan teknologi semata.
Diperlukan kerja sama yang erat dan terintegrasi antara tim bedah (seperti bedah mulut atau bedah onkologi), spesialis prostodonsia, serta tenaga kesehatan pendukung lainnya. Sinergi ini memastikan perencanaan terapi berjalan holistik, mulai dari tahap pra-bedah, pembuatan prostesis, hingga pemeliharaan pasca-pemasangan demi meningkatkan kualitas hidup pasien secara berkelanjutan.
Kesimpulan

Penyelenggaraan Simposium Internasional DSEMAR 2026 oleh FKG UNIMUS sukses menjadi wadah transfer pengetahuan mutakhir di bidang kedokteran gigi dan rehabilitasi kraniofasial. Penerapan teknologi magnetic attachment terbukti memberikan solusi klinis yang efisien, praktis, serta lebih aman untuk pasien di daerah beriklim tropis dibandingkan metode konvensional. Melalui ajang ini, FKG UNIMUS mempertegas posisinya dalam memperluas jejaring akademis global serta mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia.
FAQ
Apa itu simposium DSEMAR 2026 yang diselenggarakan oleh FKG UNIMUS? DSEMAR 2026 adalah simposium internasional garapan FKG UNIMUS yang menghadirkan pakar global untuk membahas perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran gigi terkini.
Mengapa teknologi magnetic attachment lebih unggul untuk prostesis kraniofasial? Teknologi ini memiliki sifat self-aligning yang memudahkan pemasangan, pelepasan, dan pembersihan mandiri oleh pasien, serta proses pembuatannya lebih efisien.
Apa risiko penggunaan metode bar and clip di wilayah beriklim tropis? Di iklim tropis yang lembap, metode bar and clip berisiko memicu penumpukan sekresi kulit dan infeksi di sekitar abutment, yang dapat berujung pada kegagalan implan.
Siapa pakar internasional yang menjadi pembicara dalam acara ini? Pembicara utama dalam simposium ini adalah Dr. Cheewin Towithelertkul, seorang pakar dari Mahidol University, Thailand.
Faktor apa saja yang menentukan keberhasilan rehabilitasi kraniofasial pasien? Keberhasilan ditentukan oleh pemilihan teknologi retensi prostesis yang tepat serta kolaborasi tim interdisipliner antara spesialis bedah, prostodonsia, dan tenaga kesehatan terkait.