Kendari, Kampus Times - Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat menghadapi tantangan besar berupa penyebaran hoaks, disinformasi, manipulasi data, hingga konten yang dihasilkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Dalam kondisi tersebut, Al-Qur'an telah memberikan pedoman yang sangat mendasar melalui QS. Al-Isra ayat 36.
Ayat ini bukan sekadar mengajarkan kehati-hatian dalam berbicara, tetapi juga membangun fondasi etika ilmu pengetahuan, tanggung jawab moral, dan budaya verifikasi. Melalui pesan tersebut, Al-Qur'an mengingatkan bahwa setiap informasi yang diterima, diyakini, maupun disebarkan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
QS. Al-Isra Ayat 36 Mengajarkan Tanggung Jawab atas Ilmu
"Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban."
Ayat ini berada dalam rangkaian nasihat agung pada QS. Al-Isra ayat 22–39 yang memuat berbagai prinsip kehidupan, mulai dari tauhid, penghormatan kepada orang tua, keadilan sosial, hingga pentingnya membangun kehidupan berdasarkan ilmu pengetahuan.
Makna Mendalam di Balik QS. Al-Isra Ayat 36
Ilmu Menjadi Dasar Setiap Tindakan
Frasa "wa la taqfu" bermakna larangan mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang jelas. Islam tidak mengajarkan umatnya mengambil kesimpulan, menyampaikan berita, ataupun memberikan penilaian berdasarkan dugaan semata.
Sementara itu, kata 'ilm dalam Al-Qur'an memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar informasi. Ilmu merupakan pengetahuan yang benar, dapat dipertanggungjawabkan, serta mengantarkan manusia kepada kebenaran dan kemaslahatan.
Pendengaran, Penglihatan, dan Hati adalah Amanah
Ayat ini juga menyebut tiga instrumen utama manusia dalam memperoleh pengetahuan, yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati.
Ketiganya bukan sekadar alat biologis, tetapi amanah yang diberikan Allah kepada manusia. Apa yang didengar, dilihat, diyakini, hingga disampaikan kepada orang lain akan dimintai pertanggungjawaban pada hari akhir.
Pandangan Para Ulama tentang QS. Al-Isra Ayat 36
Para mufasir klasik seperti Imam al-Tabari menjelaskan bahwa ayat ini melarang seseorang berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahuinya. Larangan tersebut mencakup kesaksian palsu, tuduhan tanpa bukti, maupun penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya.
Ibn Katsir menegaskan bahwa seorang Muslim wajib memastikan kebenaran sebelum berbicara maupun bertindak. Seluruh kemampuan mendengar, melihat, dan berpikir merupakan amanah yang akan dihisab oleh Allah SWT.
Sementara itu, Al-Qurthubi menjadikan ayat ini sebagai dasar etika hukum Islam. Menurutnya, seseorang tidak boleh memberikan kesaksian, fatwa, maupun keputusan tanpa didukung ilmu yang benar.
Dalam perspektif ulama kontemporer, Buya Hamka menilai bahwa banyak kerusakan sosial bermula dari kebiasaan berbicara mengenai sesuatu yang belum diketahui secara pasti. Kejujuran intelektual menjadi bagian penting dari keimanan.
M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa larangan mengikuti sesuatu tanpa ilmu berlaku dalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari keyakinan, perkataan, tindakan, hingga kebijakan publik. Karena itu, budaya tabayun atau verifikasi menjadi bagian penting dari ajaran Islam.
Nurcholish Madjid memandang Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan rasionalitas. Menurutnya, masyarakat yang maju dibangun di atas penghormatan terhadap fakta, dialog, dan integritas ilmiah.
Adapun Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya literasi serta tanggung jawab moral agar manusia tidak mudah terjebak fitnah, prasangka, maupun manipulasi informasi.
Menurut Muhammad Sabri AR., QS. Al-Isra ayat 36 merupakan fondasi etika epistemologi Islam. Kemajuan ilmu pengetahuan harus selalu berjalan bersama integritas moral agar teknologi benar-benar membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia.
Relevansi QS. Al-Isra Ayat 36 di Era Digital

Melawan Hoaks dan Disinformasi
Media sosial membuat informasi menyebar dalam hitungan detik. Namun, kecepatan tersebut sering kali mengalahkan proses verifikasi.
QS. Al-Isra ayat 36 mengingatkan bahwa setiap Muslim memiliki kewajiban memastikan kebenaran informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Bijak Menggunakan Artificial Intelligence (AI)
Perkembangan AI membawa banyak manfaat dalam pendidikan, penelitian, dan pekerjaan. Namun, teknologi tersebut juga berpotensi menghasilkan informasi yang tidak akurat apabila digunakan tanpa pengawasan.
Karena itu, manusia tetap memegang tanggung jawab utama untuk memverifikasi informasi, menjaga kejujuran, serta memastikan teknologi digunakan demi kemaslahatan bersama.
Membangun Integritas Akademik
Nilai yang terkandung dalam ayat ini juga menjadi dasar integritas akademik. Plagiarisme, manipulasi data, fabrikasi penelitian, hingga penyalahgunaan AI bertentangan dengan semangat Al-Qur'an yang menjunjung tinggi ilmu dan kejujuran.
Mendorong Kepemimpinan Berbasis Data
Dalam kehidupan bermasyarakat, seorang pemimpin dituntut mengambil keputusan berdasarkan data yang valid, musyawarah, dan pertimbangan ilmiah, bukan berdasarkan asumsi atau kepentingan sesaat.
Pelajaran yang Dapat Diambil
QS. Al-Isra ayat 36 mengajarkan bahwa ilmu harus menjadi dasar setiap keputusan. Ayat ini juga menanamkan pentingnya kejujuran intelektual, budaya verifikasi, tanggung jawab dalam bermedia, serta keseimbangan antara kecerdasan dan akhlak.
Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi masyarakat modern dalam menghadapi perkembangan teknologi tanpa kehilangan kompas moral.
Kesimpulan
QS. Al-Isra ayat 36 merupakan pedoman universal yang mengajarkan bahwa setiap informasi, ucapan, dan keputusan harus didasarkan pada ilmu yang benar. Pendengaran, penglihatan, dan hati bukan sekadar anugerah, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.
Di era digital yang dipenuhi banjir informasi dan perkembangan kecerdasan buatan, pesan Al-Qur'an ini semakin relevan. Teknologi dapat menjadi sarana kemajuan apabila dipandu oleh ilmu, kejujuran, dan akhlak. Dengan demikian, umat Islam tidak hanya menjadi masyarakat yang cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga mampu menghadirkan peradaban digital yang berintegritas, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan.
FAQ
- Apa pesan utama QS. Al-Isra ayat 36? QS. Al-Isra ayat 36 mengajarkan agar setiap ucapan, tindakan, dan keputusan didasarkan pada ilmu yang benar, bukan prasangka atau informasi yang belum terverifikasi.
- Mengapa QS. Al-Isra ayat 36 penting di era digital? Karena ayat ini menjadi pedoman dalam menghadapi hoaks, disinformasi, media sosial, serta penggunaan Artificial Intelligence (AI) dengan mengedepankan verifikasi dan tanggung jawab.
- Apa makna pendengaran, penglihatan, dan hati dalam QS. Al-Isra ayat 36? Ketiganya merupakan sarana memperoleh pengetahuan sekaligus amanah dari Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas penggunaannya.
- Bagaimana pandangan para ulama terhadap QS. Al-Isra ayat 36? Para ulama klasik dan kontemporer sepakat bahwa ayat ini menjadi dasar etika ilmu, kejujuran intelektual, budaya tabayun, serta tanggung jawab moral dalam kehidupan.
- Bagaimana menerapkan nilai QS. Al-Isra ayat 36 dalam kehidupan sehari-hari? Dengan membiasakan memverifikasi informasi, menghindari fitnah dan gosip, menjaga integritas akademik, menggunakan media sosial secara bijak, serta memanfaatkan teknologi untuk kemaslahatan.