Kampus Times- Sesi Teach Talks ke-45 yang diselenggarakan Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) menghadirkan diskusi inspiratif mengenai perkembangan riset bioengineering dan peluang kolaborasi internasional. Kegiatan ini mempertemukan dosen Indonesia dengan ilmuwan diaspora yang tengah berkiprah di berbagai universitas dunia.
Narasumber utama adalah Bil Hakim, mahasiswa PhD Bioengineering di Northeastern University, Boston. Melalui pemaparannya, Bil tidak hanya membagikan perjalanan akademiknya, tetapi juga menjelaskan riset inovatif yang berpotensi meningkatkan kualitas hidup pasien osteoarthritis. Ketua ADI, Prof. Ali, menegaskan bahwa forum semacam ini menjadi langkah strategis untuk membangun jejaring riset yang lebih kuat antara Indonesia dan komunitas ilmiah global.
Perjalanan Akademik dari Teknik Mesin ke Bioengineering
Lompatan Keilmuan yang Berawal dari Rasa Ingin Tahu
Bil Hakim merupakan lulusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2017 yang menyelesaikan studi sarjana pada 2021. Meski berasal dari disiplin teknik, ketertarikannya terhadap dunia biologi membawanya memasuki bidang Bioengineering.
Perubahan bidang tersebut bermula ketika ia mengerjakan tugas akhir mengenai sterilisasi bakteri menggunakan teknologi ultrasonikasi. Penelitian itu merupakan kolaborasi antara Departemen Teknik Mesin dan Departemen Biologi ITB sehingga memperkenalkan Bil pada riset yang bersifat multidisiplin.
Pengalaman tersebut menjadi titik awal yang memperluas minatnya terhadap pengembangan teknologi kesehatan berbasis rekayasa teknik.
Peran Jejaring Akademik dalam Meraih Kesempatan
Bil menjelaskan bahwa kesempatan melanjutkan studi ke Amerika Serikat tidak datang secara kebetulan. Informasi mengenai posisi PhD diperoleh melalui dosen pembimbingnya di ITB yang memiliki jaringan akademik dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Melalui proses seleksi dan wawancara langsung bersama profesor di Boston, Bil akhirnya diterima sebagai mahasiswa doktoral. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kualitas akademik yang baik perlu didukung oleh jejaring profesional yang kuat.
Fokus Riset Bioengineering untuk Mengatasi Osteoarthritis
Mengapa Osteoarthritis Sulit Diobati?
Saat ini Bil meneliti osteoarthritis (OA), yaitu penyakit degeneratif yang menyebabkan kerusakan tulang rawan sendi. Penyakit ini banyak dialami oleh kelompok lanjut usia maupun individu yang pernah mengalami cedera olahraga, seperti cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL).
Salah satu tantangan terbesar dalam pengobatan osteoarthritis adalah struktur tulang rawan yang tidak memiliki pembuluh darah. Selain itu, ukuran pori jaringan yang sangat kecil membuat molekul obat sulit menembus hingga ke bagian dalam jaringan.
Akibatnya, efektivitas terapi sering kali belum mampu menghentikan proses kerusakan tulang rawan secara optimal.
Inovasi Bioelektrostatik sebagai Solusi
Tim riset Bil mengembangkan pendekatan bioelektrostatik untuk meningkatkan kemampuan penghantaran obat ke dalam jaringan tulang rawan.
Prinsipnya memanfaatkan sifat alami tulang rawan yang bermuatan negatif. Obat kemudian direkayasa agar memiliki muatan positif sehingga dapat tertarik masuk ke jaringan melalui gaya elektrostatik, layaknya magnet yang saling menarik.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan konsentrasi obat tepat pada area yang mengalami kerusakan sehingga terapi menjadi lebih efektif.
Kombinasi Simulasi Komputasi dan Eksperimen Laboratorium
Desain Obat Menggunakan Superkomputer
Penelitian Bil memadukan pendekatan komputasi dengan eksperimen biologis.
Tahap awal dilakukan menggunakan fasilitas superkomputer untuk mensimulasikan berbagai desain molekul obat. Simulasi ini membantu peneliti memprediksi efektivitas kandidat obat sebelum memasuki tahap pengujian laboratorium.
Pendekatan tersebut mampu menghemat waktu sekaligus meningkatkan efisiensi proses penelitian.
Pengujian pada Jaringan dan Hewan Model
Setelah melalui simulasi digital, penelitian dilanjutkan dengan eksperimen menggunakan jaringan tulang rawan sapi yang diperoleh dari rumah pemotongan hewan di sekitar Boston.
Selanjutnya, efektivitas terapi diuji menggunakan model hewan berupa tikus untuk mengevaluasi respons biologis maupun kekuatan mekanis jaringan setelah pemberian obat.
Kombinasi metode komputasi dan eksperimen memungkinkan hasil penelitian menjadi lebih komprehensif sebelum dikembangkan menuju tahap translasi klinis.
Mengenal Sistem Pendidikan PhD di Amerika Serikat
Bil juga menjelaskan bahwa program doktoral di Amerika Serikat memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan banyak negara lainnya.
Mahasiswa dapat langsung melanjutkan ke jenjang PhD setelah lulus sarjana melalui skema direct admit. Program tersebut umumnya berlangsung sekitar lima tahun.
Sebagian besar mahasiswa memperoleh pendanaan penuh berupa pembebasan biaya kuliah sekaligus tunjangan hidup melalui posisi Research Assistant (RA) maupun Teaching Assistant (TA).
Sebagai Teaching Assistant, mahasiswa membantu proses pembelajaran melalui penilaian tugas, membuka sesi konsultasi mahasiswa atau office hour, hingga mendampingi kegiatan perkuliahan.
Kehidupan Akademik di Boston
Boston dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan terbaik dunia karena menjadi rumah bagi berbagai universitas terkemuka seperti MIT dan Harvard.
Bil menggambarkan kota tersebut sebagai lingkungan yang sangat mendukung aktivitas akademik. Meskipun harus menghadapi musim dingin dengan suhu mencapai minus 20 derajat Celsius, ia tetap menjaga kebugaran melalui olahraga lari dan bersepeda.
Dari sisi kehidupan sosial, komunitas muslim di kawasan Longwood juga cukup aktif. Berbagai kegiatan keagamaan, termasuk buka puasa bersama selama Ramadan, menjadi wadah mempererat hubungan antarmahasiswa dan peneliti dari berbagai negara.
Harapan ADI bagi Penguatan Ekosistem Riset Indonesia

Melalui Teach Talks, ADI berharap semakin banyak dosen Indonesia yang membangun kolaborasi dengan ilmuwan diaspora.
Kolaborasi tersebut tidak hanya mencakup penelitian bersama, tetapi juga pertukaran mahasiswa, pengembangan laboratorium, hingga peluang studi lanjut ke luar negeri.
Inisiatif semacam ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem ilmu pengetahuan nasional sekaligus mendukung pengembangan pusat pendidikan dan riset, termasuk dalam mendukung visi pembangunan kawasan pendidikan di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kesimpulan
Teach Talks ke-45 ADI memperlihatkan bagaimana perjalanan akademik lintas disiplin dapat menghasilkan inovasi yang berdampak bagi dunia kesehatan. Kisah Bil Hakim menunjukkan bahwa keberanian mengeksplorasi bidang baru, didukung jejaring akademik yang kuat dan kolaborasi internasional, mampu membuka peluang riset berkelas dunia. Melalui penguatan kerja sama antara dosen Indonesia dan diaspora, ekosistem penelitian nasional berpotensi berkembang lebih cepat sekaligus melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
FAQ
- Apa itu Teach Talks ADI? Teach Talks ADI merupakan forum diskusi yang diselenggarakan Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) untuk mempertemukan dosen di Indonesia dengan ilmuwan diaspora guna berbagi pengalaman, memperluas jejaring, dan mendorong kolaborasi riset.
- Siapa Bil Hakim? Bil Hakim adalah alumni Teknik Mesin ITB yang saat ini menempuh studi PhD Bioengineering di Northeastern University, Boston, dengan fokus penelitian pada pengembangan terapi osteoarthritis.
- Apa inovasi yang dikembangkan dalam penelitian Bil Hakim? Penelitiannya memanfaatkan pendekatan bioelektrostatik dengan merekayasa obat bermuatan positif agar lebih mudah masuk ke jaringan tulang rawan yang bermuatan negatif sehingga terapi osteoarthritis menjadi lebih efektif.
- Bagaimana sistem pendanaan program PhD di Amerika Serikat? Sebagian besar mahasiswa PhD memperoleh pendanaan penuh berupa pembebasan biaya kuliah dan tunjangan hidup melalui skema Research Assistant (RA) atau Teaching Assistant (TA), sekaligus terlibat aktif dalam kegiatan penelitian dan pembelajaran.
- Mengapa kolaborasi dengan ilmuwan diaspora penting? Kolaborasi dengan diaspora membuka peluang riset bersama, pertukaran mahasiswa, transfer pengetahuan, serta penguatan ekosistem pendidikan tinggi Indonesia sehingga mampu menghasilkan inovasi yang lebih kompetitif di tingkat global.
Sumber : https://www.youtube.com/live/WewZZc5ogHY?si=RncvvehxamqEaUJ6