News

Menembus Keterbatasan Ekonomi: Perjuangan Tiara Julianti, Anak Penjual Keripik Asal Tangerang Lolos Kuliah Gratis di FKKMK UGM

15 Juli 2026, 06:02 WIB / Azantha
Sumber ugm.ac.id dirapikan AI

Sumber ugm.ac.id dirapikan AI

YOGYAKARTA, KampusTimes.com - Impian masa kecil untuk mendedikasikan diri di dunia kesehatan kini berada di depan mata bagi Tiara Julianti (18). Gadis berprestasi asal Teluknaga, Tangerang, Banten ini berhasil menembus ketatnya persaingan masuk ke Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Keberhasilan lulusan SMA Negeri 1 Tangerang tersebut menjadi sangat istimewa mengingat ia tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Sebagai putri dari pasangan penjual keripik, Tiara resmi diterima di salah satu kampus terbaik di Indonesia tersebut tanpa dibebani biaya pendidikan sepeser pun berkat perolehan subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 100 persen dari pihak universitas.

Langkah mulia ini membuktikan bahwa dedikasi akademis yang tinggi serta keteguhan mental mampu meruntuhkan sekat finansial, membawa anak pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) ke gerbang pendidikan tinggi elit nasional.

Konsistensi Prestasi Akademik Sejak Dini Jadi Kunci Utama Kelulusan

Keberhasilan Tiara menembus seleksi masuk jalur Penelusuran Bibit Unggul (PBU) UGM bukanlah sebuah kebetulan yang instan. Sejak menginjakkan kaki di bangku Sekolah Dasar (SD), ia telah menunjukkan bakat dan kedisiplinan belajar yang luar biasa dengan konsisten menduduki peringkat pertama di kelasnya. Pola prestasi ini terus ia jaga hingga jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), di mana dirinya berhasil menyabet gelar juara umum sekolah. Rekam jejak gemilang tersebut yang kemudian mengantarkan dirinya masuk ke SMA Negeri 1 Tangerang, sebuah sekolah favorit di daerahnya, dan ia tetap mampu mempertahankan performa akademisnya di papan atas kelas.

Di luar aktivitas kurikuler wajib, Tiara juga aktif mengembangkan kapasitas nonakademik dengan terlibat di berbagai ranah organisasi kesiswaan, kompetisi debat, ajang Olimpiade Biologi, hingga bergabung dalam tim pemandu sorak (cheerleading). Penyeimbangan waktu yang cermat antara belajar dan berorganisasi ini membentuk karakter personal yang tangguh, disiplin, dan pantang menyerah dalam diri Tiara. Motivasi kuatnya untuk menjadi dokter semakin menebal ketika ia menyaksikan langsung bagaimana krisis kesehatan dunia akibat pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu membutuhkan kehadiran banyak tenaga medis yang tulus melayani masyarakat.

Dukungan Keluarga dan Kebahagiaan Mendapatkan Subsidi UKT 100 Persen

Di balik kesuksesan Tiara, ada perjuangan tanpa lelah dari kedua orang tuanya, Sabdi dan Siti Rohani. Keduanya menyambung hidup sehari-hari dengan mengandalkan pendapatan dari usaha berjualan keripik yang hasilnya tidak menentu. Situasi fluktuatif tersebut menuntut keluarga ini untuk sangat cermat dalam mengatur pos pengeluaran rumah tangga, termasuk untuk kebutuhan pendidikan ketiga anak mereka. Kondisi ekonomi ini sempat memicu kekhawatiran yang mendalam di benak Sabdi mengenai kemampuannya membiayai impian besar putrinya untuk berkuliah di fakultas kedokteran yang dikenal membutuhkan biaya tinggi.

Meskipun dihantui kecemasan finansial, Sabdi dan Siti Rohani tidak pernah mematahkan semangat belajar sang anak. Bahkan, ketika Tiara sempat mengalami kegagalan pada salah satu jalur seleksi perguruan tinggi sebelumnya, kedua orang tuanya justru menjadi garda terdepan yang memberikan suntikan moral agar putrinya segera bangkit dan mencoba kembali.

Perjuangan tersebut akhirnya terbayar lunas ketika pengumuman resmi kelulusan diumumkan. Kebahagiaan keluarga ini terasa semakin lengkap dan penuh haru ketika pihak rektorat UGM memutuskan memberikan subsidi UKT penuh (100 persen) kepada Tiara setelah melakukan verifikasi berkas kondisi ekonomi keluarga:

  • Pemberdayaan Akses: Kebijakan subsidi UKT 100 persen UGM menjadi jembatan nyata bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera untuk menikmati kualitas pendidikan tinggi setara.

  • Kebebasan Akademik: Hilangnya beban biaya operasional tahunan membuat mahasiswa dapat memfokuskan seluruh energi dan konsentrasi untuk menyerap ilmu kedokteran secara maksimal.

Menatap Masa Depan untuk Menjadi Dokter Spesialis Mata

Bagi Tiara, kesempatan emas berkuliah di FKKMK UGM ini bukanlah akhir dari perjalanannya, melainkan garis awal untuk mengabdi kepada masyarakat yang lebih luas. Jika diberikan kelancaran selama menempuh studi sarjana dan profesi dokter kelak, ia menaruh harapan besar untuk dapat melanjutkan jenjang pendidikan ke spesialisasi mata (oftalmologi). Pilihan spesifik ini lahir dari keprihatinannya melihat tingginya ketergantungan generasi muda saat ini terhadap gawai (gadget) yang kerap memicu gangguan kesehatan indra penglihatan sejak usia dini.

Melalui keberhasilan ini, Tiara juga ingin mengirimkan pesan motivasi yang kuat kepada seluruh generasi muda di Indonesia yang memiliki keterbatasan serupa agar tidak pernah takut untuk merajut mimpi setinggi-tingginya, asalkan diimbangi dengan kerja keras yang nyata, doa, serta restu orang tua.

Kesimpulan

Kisah perjuangan Tiara Julianti yang sukses menembus seleksi Kedokteran UGM menunjukkan bahwa keterbatasan kondisi ekonomi tidak boleh menjadi batu sandungan bagi anak bangsa untuk meraih pendidikan terbaik. Komitmen Universitas Gadjah Mada dalam memberikan subsidi UKT hingga 100 persen bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu menegaskan pentingnya aksesibilitas pendidikan tinggi yang adil dan merata, sekaligus melahirkan harapan baru bagi peningkatan taraf hidup keluarga prasejahtera melalui jalur intelektual.

FAQ

  1. Siapa sosok anak penjual keripik yang berhasil diterima kuliah gratis di Fakultas Kedokteran UGM?

    Sosok tersebut adalah Tiara Julianti (18), seorang lulusan berprestasi dari SMA Negeri 1 Tangerang, Banten.

  2. Melalui jalur seleksi apa Tiara Julianti berhasil lolos masuk ke FKKMK UGM?

    Tiara berhasil diterima masuk ke Program Studi Kedokteran UGM melalui jalur seleksi Penelusuran Bibit Unggul (PBU).

  3. Apa pekerjaan orang tua Tiara sehingga ia berhak mendapatkan bantuan biaya pendidikan penuh?

    Kedua orang tua Tiara, yaitu Sabdi dan Siti Rohani, sehari-hari menyambung hidup dengan menjalankan usaha kecil-kecilan berjualan keripik di Teluknaga, Tangerang.

  4. Bantuan apa yang diperoleh Tiara dari pihak UGM untuk kelancaran masa studinya?

    Tiara memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 100 persen, yang artinya ia dibebaskan sepenuhnya dari biaya kuliah hingga lulus.

  5. Apa cita-cita spesifik Tiara setelah nantinya berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran di UGM?

    Tiara bercita-cita melanjutkan studinya untuk menjadi dokter spesialis mata guna membantu mengedukasi dan menangani masalah kesehatan mata di masyarakat.

Sumber Asli Berita: Artikel ini dikembangkan dan ditulis ulang secara independen berdasarkan laporan pemberitaan nasional ugm.ac.id dengan judul asli "Berbekal Prestasi, Anak Penjual Keripik Diterima Kuliah Gratis di Kedokteran UGM" yang dipublikasikan pada bulan Juli 2026.

Topik Terkait

Trending Hari Ini