Kampus Times - Perubahan iklim bukan lagi isu yang hanya dibahas di ruang akademik atau forum internasional. Dampaknya sudah dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan. Di tengah tantangan tersebut, sosok Nana Firman menawarkan pendekatan yang berbeda, yakni menggabungkan nilai agama, kearifan lokal, dan aksi nyata sebagai fondasi membangun kesadaran lingkungan.
Pengalaman internasional yang dimilikinya memperlihatkan bahwa keberhasilan gerakan lingkungan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kemampuan membangun hubungan emosional dengan masyarakat.
Siapa Nana Firman?

Nana Firman merupakan diaspora Indonesia yang aktif berkarya di Amerika Serikat. Ia memiliki latar belakang pendidikan di bidang Desain Industri dan Desain Perkotaan (Urban Design) di New York.
Perjalanan kariernya di bidang lingkungan semakin berkembang ketika terlibat dalam program rekonstruksi pascatsunami Aceh bersama WWF Indonesia. Dalam proyek tersebut, Nana memimpin konsep Green Reconstruction, yaitu pembangunan kembali kawasan terdampak bencana dengan memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Kini, Nana menjabat sebagai salah satu direktur GreenFaith, organisasi internasional lintas agama yang mendorong aksi nyata menghadapi perubahan iklim melalui kolaborasi berbagai komunitas keagamaan.
Agama sebagai Bahasa yang Mudah Dipahami Masyarakat
Pendekatan Moral Lebih Efektif
Menurut Nana Firman, komunikasi mengenai perubahan iklim sering kali terlalu dipenuhi istilah ilmiah yang sulit dipahami masyarakat umum. Data dan angka memang penting, tetapi belum tentu mampu menggerakkan seseorang untuk berubah.
Pengalamannya menunjukkan bahwa ketika pesan lingkungan dikaitkan dengan nilai agama, seperti ayat Al-Qur'an, hadis, maupun ajaran agama lain tentang menjaga ciptaan Tuhan, masyarakat menjadi lebih mudah menerima dan terdorong untuk bertindak.
Prinsip Heart, Head, dan Hand
Dalam membangun gerakan lingkungan, Nana menggunakan konsep sederhana yang disebut prinsip 3H.
- Heart (Hati): membangun kepedulian melalui nilai moral dan spiritual.
- Head (Kepala): memberikan pemahaman ilmiah mengenai persoalan lingkungan.
- Hand (Tangan): mengajak masyarakat melakukan tindakan nyata.
Pendekatan tersebut dinilai mampu menghubungkan aspek emosional, rasional, dan praktik sehingga perubahan perilaku menjadi lebih berkelanjutan.
Pelajaran Penting dari COP26 Glasgow
Konferensi Perubahan Iklim PBB COP26 di Glasgow menjadi salah satu momentum penting dalam memperkuat komitmen dunia menghadapi krisis iklim.
Target Pembatasan Suhu Global
Salah satu hasil utama konferensi tersebut adalah komitmen menjaga kenaikan suhu bumi agar tidak melebihi 1,5 derajat Celcius dibandingkan masa praindustri.
Batas tersebut dianggap sebagai ambang penting untuk mengurangi risiko bencana iklim yang semakin ekstrem dan sulit dipulihkan apabila terlampaui.
Komitmen Net-Zero dan Penghentian Deforestasi
Berbagai negara juga memperkuat komitmen mencapai net-zero emission pada tahun 2050 serta mendorong penghentian deforestasi pada 2030.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya global mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus melindungi ekosistem yang berperan menyerap karbon.
Kritik terhadap Ketimpangan Global
Meski menghasilkan berbagai kesepakatan penting, Nana Firman menilai COP26 masih menyisakan persoalan keadilan.
Menurutnya, banyak perwakilan negara berkembang menghadapi hambatan untuk hadir akibat aturan karantina, biaya perjalanan, serta ketimpangan akses vaksin. Akibatnya, suara masyarakat yang paling terdampak perubahan iklim tidak selalu memperoleh ruang yang setara dibandingkan negara maju maupun pelaku industri besar.
Selain itu, implementasi janji pendanaan senilai 100 miliar dolar AS bagi negara berkembang masih menjadi perhatian karena realisasinya belum sepenuhnya memenuhi harapan.
Indonesia, Negara Megabiodiversity Dunia
Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam pelestarian lingkungan global.
Secara daratan, Indonesia termasuk negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Sementara itu, untuk ekosistem laut, Indonesia menempati posisi terdepan dengan kekayaan spesies yang luar biasa.
Potensi tersebut merupakan modal penting bagi pembangunan berkelanjutan sekaligus tanggung jawab besar yang harus dijaga bersama.
Nana Firman menekankan bahwa rasa bangga terhadap kekayaan alam Indonesia perlu ditanamkan sejak usia dini. Ketika generasi muda mencintai lingkungan, mereka akan lebih terdorong untuk melindungi dan memanfaatkannya secara bijaksana.
Tantangan Menuju Masa Depan Berkelanjutan

Kebijakan yang Konsisten
Persoalan lingkungan membutuhkan visi puluhan hingga ratusan tahun, sedangkan pergantian pemerintahan berlangsung setiap lima tahun.
Karena itu, diperlukan kebijakan yang mampu melampaui siklus politik sehingga program keberlanjutan tetap berjalan tanpa bergantung pada pergantian kepemimpinan.
Percepatan Transisi Energi
Indonesia juga didorong mempercepat peralihan dari energi fosil menuju energi terbarukan.
Pemanfaatan tenaga surya, angin, panas bumi, maupun sumber energi bersih lainnya menjadi langkah strategis untuk mengurangi emisi sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional.
Peran Akademisi dan Generasi Muda
Nana Firman mengajak perguruan tinggi mengintegrasikan paradigma sustainability ke dalam seluruh disiplin ilmu.
Mahasiswa teknik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, hukum, hingga ilmu sosial memiliki peluang yang sama untuk menghadirkan solusi terhadap persoalan lingkungan sesuai bidang keahliannya.
Pendidikan sejak usia dini juga menjadi investasi penting. Kebiasaan sederhana seperti menghemat air, mengurangi sampah makanan, memilah sampah, dan menanam pohon mampu membangun karakter peduli lingkungan sejak kecil.
Selain itu, berbagai inovasi lokal, seperti pemanfaatan sampah menjadi bahan bangunan, membuktikan bahwa solusi terhadap krisis iklim tidak selalu harus berasal dari teknologi mahal. Inisiatif masyarakat di tingkat akar rumput justru dapat menjadi inspirasi bagi perubahan yang lebih luas.
Kesimpulan
Nana Firman menunjukkan bahwa menghadapi perubahan iklim memerlukan pendekatan yang menyentuh hati sekaligus menggerakkan tindakan. Integrasi nilai agama, kearifan lokal, pendidikan, serta kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting untuk membangun masyarakat yang peduli terhadap lingkungan.
Sebagai negara megabiodiversity, Indonesia memiliki peluang besar menjadi contoh dalam pembangunan berkelanjutan. Dengan kebijakan yang konsisten, percepatan transisi energi, serta keterlibatan akademisi, generasi muda, dan masyarakat, upaya menjaga bumi dapat menjadi gerakan bersama yang memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun masa depan.
FAQ
- Siapa Nana Firman? Nana Firman adalah diaspora Indonesia yang aktif di Amerika Serikat dan menjabat sebagai direktur GreenFaith, organisasi internasional yang bergerak dalam aksi lingkungan berbasis nilai keagamaan.
- Mengapa pendekatan agama dinilai efektif dalam aksi iklim? Karena nilai agama lebih mudah dipahami masyarakat dan mampu membangun kepedulian moral yang mendorong tindakan nyata menjaga lingkungan.
- Apa target utama yang ditekankan dalam COP26? Menjaga kenaikan suhu bumi agar tidak melebihi 1,5 derajat Celcius, mencapai net-zero emission pada 2050, dan menghentikan deforestasi pada 2030.
- Mengapa Indonesia disebut negara megabiodiversity? Karena Indonesia memiliki salah satu keanekaragaman hayati daratan terbesar di dunia dan merupakan negara dengan biodiversitas laut tertinggi di dunia.
- Apa peran akademisi dalam mendukung keberlanjutan? Akademisi berperan mengintegrasikan prinsip sustainability ke dalam pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian masyarakat di berbagai disiplin ilmu.
Sumber : https://www.youtube.com/live/7ZWLM5pMQQ4?si=P0_OY-9ifjLF16Kd