Life & Campus

Polemik KKN Muhammadiyah di Kasembon: Saat NU-Muhammadiyah Diuji Menjaga Harmoni

8 Agustus 2026, 22:41 WIB / Tutut Septia Wati
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Malang, Kampus Times - Viralnya surat yang dikaitkan dengan MWCNU Kasembon, Kabupaten Malang, yang mengimbau badan otonom dan lembaga di bawahnya untuk tidak terlibat dalam kegiatan KKN Universitas Muhammadiyah pada 2026 memantik perdebatan di ruang publik.

Perbincangan mengenai isu tersebut berkembang di media sosial dan memunculkan beragam tanggapan, termasuk seruan agar persoalan perbedaan organisasi tidak mengganggu keharmonisan kehidupan bermasyarakat.

Namun, penting untuk membedakan antara informasi yang telah terverifikasi dan berbagai interpretasi yang berkembang di masyarakat. Terlepas dari benar atau tidaknya alasan di balik kebijakan tersebut, polemik Kasembon seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi yang lebih luas tentang bagaimana NU dan Muhammadiyah merawat hubungan di tengah perbedaan.

NU dan Muhammadiyah: Dua Tradisi, Satu Indonesia

Hubungan antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah merupakan bagian penting dari sejarah Islam Indonesia. Keduanya dapat diibaratkan sebagai dua sayap yang memungkinkan burung bernama Indonesia terbang secara seimbang.

Jika kedua sayap tersebut saling melemahkan, yang terdampak bukan hanya organisasi masing-masing, tetapi juga umat Islam dan kehidupan kebangsaan secara keseluruhan.

Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada 1912 membawa semangat tajdid atau pembaruan, penguatan pendidikan, dan pemurnian ajaran Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Sementara itu, NU yang didirikan KH Hasyim Asy'ari pada 1926 berkembang dengan karakter yang kuat dalam menjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, khazanah keilmuan mazhab, budaya lokal, dan tradisi pesantren.

Karena latar belakang tersebut, Muhammadiyah kerap disebut sebagai representasi Islam modernis, sedangkan NU sering dikategorikan sebagai representasi Islam tradisional.

Namun, kategorisasi tersebut lebih tepat dipahami sebagai istilah akademik untuk membaca karakter sejarah, bukan sebagai ukuran keunggulan satu kelompok atas kelompok lainnya.

Tradisional tidak berarti anti-kemajuan. Modernis juga tidak berarti anti-tradisi.

Batas Tradisional dan Modernis Semakin Cair

Perkembangan kedua organisasi menunjukkan bahwa batas antara tradisionalisme dan modernisme tidak lagi sesederhana kategorisasi masa lalu.

NU hari ini memiliki universitas, rumah sakit, lembaga pendidikan, serta berbagai institusi ekonomi dan sosial modern. Muhammadiyah pun memiliki tradisi intelektual, spiritualitas, dan penghormatan terhadap ulama yang berkembang dalam perjalanan sejarahnya.

Keduanya telah beradaptasi dengan perubahan zaman melalui jalur masing-masing.

Karena itu, perbedaan metodologi dalam memahami dan menjalankan ajaran agama seharusnya tidak otomatis diterjemahkan menjadi jarak sosial.

Perbedaan Metodologi Bukan Alasan Memutus Kolaborasi

NU memiliki tradisi keilmuan yang kuat melalui sanad, mazhab, pesantren, serta prinsip al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah, yakni memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Sementara Muhammadiyah menekankan ijtihad dan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah melalui pendekatan tarjih serta pengembangan pemikiran keislaman yang sesuai dengan tantangan zaman.

Perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika intelektual Islam Indonesia.

Yang perlu dijaga adalah agar perbedaan metodologi tidak berubah menjadi prasangka terhadap sesama Muslim, apalagi menjadi alasan untuk menutup pintu kerja sama dalam bidang sosial, pendidikan, kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Islam Indonesia Dibangun dari Keberagaman

Dalam urusan kebangsaan, NU dan Muhammadiyah pada banyak kesempatan menunjukkan komitmen terhadap Indonesia sebagai rumah bersama.

NU mengembangkan berbagai gagasan tentang Islam dan kebangsaan, termasuk Islam Nusantara. Muhammadiyah mengembangkan gagasan Islam Berkemajuan.

Istilahnya berbeda, tetapi terdapat titik temu yang sangat penting: agama diharapkan menghadirkan kemajuan, kedamaian, pendidikan, kemanusiaan, dan kemaslahatan.

Di titik inilah perbedaan seharusnya menemukan ruang dialog.

KKN Bukan Arena Kompetisi Organisasi

Polemik Kasembon semestinya dibaca secara arif, terutama karena yang dipertaruhkan bukan sekadar relasi antarlembaga, tetapi juga makna pengabdian kepada masyarakat.

Kuliah Kerja Nyata bukan arena kompetisi ideologi organisasi

KKN merupakan bagian dari proses pendidikan tinggi yang mempertemukan mahasiswa dengan realitas kehidupan masyarakat. Mahasiswa datang ke desa untuk belajar, berbagi pengetahuan, membantu menyelesaikan persoalan, dan mengembangkan potensi masyarakat.

Dalam konteks tersebut, identitas organisasi seharusnya tidak menjadi tembok yang menghalangi tujuan pengabdian.

Jika terdapat perbedaan dalam praktik keagamaan, tentu masyarakat memiliki hak untuk menentukan bentuk keterlibatan yang dianggap sesuai. Namun, setiap keputusan idealnya tetap ditempatkan dalam semangat dialog, penghormatan, dan kemaslahatan bersama.

Al-Qur'an Mengajarkan Kerja Sama dalam Kebaikan

Islam memberikan prinsip yang sangat jelas mengenai pentingnya kerja sama dalam kebajikan.

“Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma'idah: 2)

Pesan tersebut memberikan fondasi penting dalam membangun kehidupan sosial. Identitas kelembagaan, pilihan metodologi, maupun perbedaan tradisi tidak seharusnya menghilangkan semangat untuk bekerja sama dalam menghadirkan kebaikan.

Selama orientasinya adalah kemaslahatan, pendidikan, pemberdayaan, dan pelayanan kepada masyarakat, ruang kolaborasi semestinya selalu terbuka.

Perbedaan adalah Sunnatullah

Perbedaan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Yang menjadi persoalan bukan keberadaan perbedaan, melainkan cara manusia meresponsnya.

Perbedaan dapat menjadi sumber kekayaan intelektual apabila dikelola melalui dialog. Sebaliknya, perbedaan dapat berubah menjadi konflik ketika disertai prasangka, eksklusivisme, dan keinginan untuk meniadakan pihak lain.

Karena itu, tantangan terbesar NU dan Muhammadiyah bukan bagaimana membuat semua orang memiliki cara beragama yang sama, tetapi bagaimana menjaga agar perbedaan tidak merusak hubungan sosial.

Tradisi dan Pembaruan Harus Saling Menguatkan

Indonesia tidak membutuhkan pertarungan tanpa akhir antara tradisionalisme dan modernisme.

Tradisi memiliki fungsi menjaga akar, identitas, dan kebijaksanaan sejarah. Pembaruan diperlukan agar masyarakat mampu menjawab persoalan baru yang terus berkembang.

Tradisi tanpa pembaruan dapat membeku. Pembaruan tanpa akar tradisi dapat kehilangan kebijaksanaan.

Keduanya dapat saling melengkapi ketika ditempatkan dalam kerangka kemaslahatan.

Masyarakat Menilai Manfaat, Bukan Label Organisasi

Pada akhirnya, masyarakat tidak selalu bertanya apakah mahasiswa yang datang berasal dari NU atau Muhammadiyah.

Masyarakat akan merasakan apakah kehadiran mahasiswa membawa manfaat. Apakah mereka membantu anak-anak belajar? Apakah mereka mendukung kegiatan sosial? Apakah mereka membantu masyarakat memahami teknologi? Apakah mereka memberikan gagasan yang dapat memperkuat potensi desa?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang semestinya menjadi ukuran keberhasilan sebuah program pengabdian.

KKN akan kehilangan sebagian makna pendidikannya jika mahasiswa justru datang membawa identitas kelompok yang lebih besar daripada misi kemanusiaan dan pengabdiannya.

Saatnya Memperbanyak Jembatan

Saatnya Memperbanyak Jembatan

KONSULTASI GRATIS SEKARANG

Bangsa Indonesia saat ini menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada perbedaan organisasi keagamaan.

Kemiskinan, kesenjangan pendidikan, kerusakan lingkungan, disrupsi digital, perubahan sosial, dan polarisasi masyarakat membutuhkan energi bersama. Tidak ada satu organisasi yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan tersebut sendirian.

Karena itu, energi umat seharusnya diarahkan untuk membangun jembatan, bukan mempertinggi tembok.

NU membutuhkan Muhammadiyah dalam arti luas, dan Muhammadiyah juga membutuhkan NU sebagai bagian dari kekuatan masyarakat sipil Indonesia. Bukan untuk menyeragamkan identitas, melainkan untuk menemukan titik temu dalam persoalan yang lebih besar.

Merawat Perbedaan, Merawat Indonesia

Hubungan NU dan Muhammadiyah tidak harus selalu bebas dari perbedaan. Justru kedewasaan sebuah masyarakat terlihat dari kemampuannya mengelola perbedaan tanpa kehilangan rasa persaudaraan.

Perbedaan dapat tetap ada. Tradisi dapat tetap dijaga. Metodologi dapat tetap dikembangkan.

Yang tidak boleh hilang adalah kesediaan untuk berdialog dan bekerja sama ketika kepentingan masyarakat membutuhkan.

Kesimpulan

Polemik KKN Muhammadiyah di Kasembon semestinya tidak berhenti pada perdebatan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah. Persoalan ini dapat menjadi refleksi bersama tentang pentingnya menjaga ruang dialog antara kelompok-kelompok Islam yang memiliki sejarah, tradisi, dan metodologi berbeda.

NU dan Muhammadiyah memang tidak harus menjadi sama. Keduanya justru dapat terus berkembang dengan karakter masing-masing sembari mencari titik temu dalam pendidikan, sosial, kemanusiaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pada akhirnya, perbedaan tidak harus menjadi tembok. Ia dapat menjadi jembatan untuk saling memahami.

Di tengah tantangan bangsa yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan lebih banyak kolaborasi dan lebih sedikit sekat. Sebab ketika NU dan Muhammadiyah berjalan bersama, yang tumbuh bukan hanya kekuatan dua organisasi, tetapi juga harapan bagi umat dan masa depan Indonesia.

FAQ 

  1. Apa yang menjadi latar belakang polemik KKN Muhammadiyah di Kasembon? Polemik muncul setelah beredarnya surat yang dikaitkan dengan MWCNU Kasembon, Kabupaten Malang, yang mengimbau badan otonom dan lembaga di bawahnya untuk tidak terlibat dalam kegiatan KKN Universitas Muhammadiyah 2026.
  2. Apakah polemik tersebut menunjukkan konflik antara NU dan Muhammadiyah? Belum tentu. Informasi mengenai latar belakang kebijakan tersebut masih terbatas, sehingga persoalan ini sebaiknya tidak langsung disimpulkan sebagai konflik kelembagaan antara NU dan Muhammadiyah.
  3. Mengapa NU dan Muhammadiyah penting dalam kehidupan kebangsaan Indonesia? Keduanya memiliki sejarah panjang dan kontribusi besar dalam pendidikan, kesehatan, sosial, keagamaan, serta pembangunan masyarakat Indonesia, meskipun memiliki tradisi dan metodologi keislaman yang berbeda.
  4. Mengapa KKN seharusnya menjadi ruang kolaborasi? KKN merupakan bagian dari pendidikan tinggi yang bertujuan memberikan pengalaman belajar sekaligus pengabdian kepada masyarakat, sehingga orientasinya semestinya pada pemberdayaan, kemanfaatan, dan penyelesaian persoalan masyarakat, bukan kompetisi identitas organisasi.
  5. Apa pelajaran utama dari polemik KKN Muhammadiyah di Kasembon? Perbedaan NU dan Muhammadiyah tidak harus menjadi tembok pemisah. Dialog, sikap saling menghormati, dan kolaborasi dalam kebaikan justru diperlukan untuk menjaga kerukunan umat dan memperkuat kehidupan kebangsaan.

Topik Terkait

Trending Hari Ini