Life & Campus

Tiga Golongan yang Menjadi Musuh Allah di Hari Kiamat, Siapa Mereka?

11 Agustus 2026, 20:17 WIB / Tutut Septia Wati
Tiga Golongan yang Menjadi Musuh Allah di Hari Kiamat, Siapa Mereka?

Tiga Golongan yang Menjadi Musuh Allah di Hari Kiamat, Siapa Mereka?

Yogyakarta, Kampus Times - Hari kiamat dalam perspektif Islam bukan sekadar gambaran tentang berakhirnya kehidupan dunia. Ia merupakan hari ketika seluruh amal manusia dipertanggungjawabkan dan setiap bentuk kezaliman memperoleh perhitungan yang adil.

Dalam sebuah hadis Qudsi yang diriwayatkan Sahih al-Bukhari, Rasulullah SAW menyampaikan peringatan sangat keras mengenai tiga golongan yang akan menjadi pihak yang dimusuhi Allah pada hari kiamat. Hadis tersebut tercantum antara lain dalam riwayat Bukhari No. 2227.

Pesan hadis ini menjadi penting karena ketiga golongan tersebut tidak hanya melakukan pelanggaran yang bersifat pribadi. Perbuatan mereka menyangkut hak, kehormatan, kebebasan, dan penghidupan orang lain.

Sobirin Malian, Dosen Penggiat Literasi, menyoroti hadis tersebut sebagai refleksi penting mengenai hubungan antara keimanan kepada Allah dan kewajiban menjaga keadilan dalam kehidupan sosial.

Tiga Golongan yang Mendapat Ancaman Keras

Hadis tersebut menggambarkan tiga bentuk perbuatan yang memiliki konsekuensi moral sangat serius. Ketiganya menunjukkan bagaimana kepentingan dunia dapat mendorong seseorang mengorbankan kejujuran dan hak sesama.

1. Menggunakan Nama Allah untuk Mengkhianati Orang Lain

Golongan pertama adalah orang yang menggunakan sumpah atas nama Allah untuk meyakinkan orang lain, tetapi kemudian mengingkari sumpah tersebut demi memperoleh keuntungan.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya dapat muncul melalui transaksi perdagangan, kesepakatan bisnis, perjanjian pekerjaan, hingga berbagai urusan sosial. Nama Allah dijadikan alat untuk membangun kepercayaan, tetapi setelah kepentingan pribadi tercapai, janji tersebut justru dilanggar.

Persoalannya bukan semata-mata karena seseorang mengingkari perkataan. Membawa nama Allah dalam sebuah sumpah berarti menempatkan kesucian agama dalam sebuah komitmen. Ketika sumpah digunakan untuk menipu, agama seolah-olah dijadikan instrumen untuk memperoleh keuntungan duniawi.

Karena itu, kejujuran menjadi bagian penting dari tanggung jawab keagamaan. Seseorang tidak seharusnya menggunakan nama Allah untuk memperkuat kebohongan atau menutupi pengkhianatan.

2. Memperjualbelikan Manusia Merdeka

Golongan kedua adalah orang yang memperjualbelikan manusia merdeka dan mengambil keuntungan dari tindakan tersebut.

Dalam konteks kehidupan modern, persoalan ini dapat dikaitkan dengan praktik perdagangan manusia, eksploitasi, perekrutan tenaga kerja secara ilegal, hingga penipuan berkedok kesempatan kerja yang kemudian menempatkan korban dalam kondisi eksploitatif.

Manusia bukan komoditas. Setiap individu memiliki martabat dan hak yang harus dihormati. Ketika kebebasan seseorang dirampas demi keuntungan ekonomi, yang terjadi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga penghancuran nilai kemanusiaan.

Relevansi di Era Modern

Perdagangan manusia dapat berkembang melalui berbagai modus yang semakin kompleks. Tawaran pekerjaan dengan iming-iming pendapatan tinggi, misalnya, dapat dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk mengeksploitasi korban.

Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan literasi hukum, literasi digital, dan kewaspadaan terhadap tawaran pekerjaan yang tidak transparan. Perlindungan terhadap manusia harus ditempatkan lebih tinggi daripada kepentingan memperoleh keuntungan.

3. Menahan Upah Pekerja

Golongan ketiga adalah orang yang mempekerjakan seseorang, memperoleh manfaat dari pekerjaannya, tetapi tidak memberikan hak upah sebagaimana mestinya.

Persoalan upah bukan perkara kecil. Di balik penghasilan seorang pekerja terdapat kebutuhan keluarga, biaya pendidikan anak, kebutuhan pangan, tempat tinggal, dan berbagai keperluan dasar lainnya.

Menunda atau menahan pembayaran tanpa alasan yang dibenarkan dapat menimbulkan dampak berantai terhadap kehidupan pekerja. Karena itu, Islam memberikan perhatian serius terhadap pemenuhan hak pekerja.

Rasulullah SAW juga memberikan pesan agar upah pekerja diberikan secara tepat dan tidak ditunda setelah pekerjaan ditunaikan. Prinsip tersebut menunjukkan bahwa hubungan kerja dalam Islam tidak semata-mata berbicara tentang keuntungan, tetapi juga amanah dan keadilan.

Benang Merah: Kezaliman terhadap Sesama

Benang Merah: Kezaliman terhadap Sesama

KONSULTASI GRATIS SEKARANG

Ketiga golongan tersebut memiliki satu kesamaan mendasar, yakni merampas hak orang lain demi kepentingan pribadi.

Orang pertama mengkhianati kepercayaan dengan membawa nama Allah. Orang kedua merampas kebebasan manusia untuk mendapatkan keuntungan. Sementara orang ketiga menikmati hasil kerja seseorang tetapi mengabaikan hak ekonominya.

Ketiganya menunjukkan bahwa persoalan moral dalam Islam tidak berhenti pada hubungan vertikal antara manusia dan Allah. Keimanan juga harus tercermin dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Ibadah dan Tanggung Jawab Sosial

Hadis tersebut memberikan pelajaran bahwa kesalehan tidak dapat diukur hanya dari banyaknya aktivitas ritual. Salat, puasa, sedekah, dan ibadah lainnya harus membentuk pribadi yang jujur, amanah, dan adil.

Seseorang dapat memiliki pengetahuan agama yang luas, tetapi pengetahuan tersebut kehilangan makna apabila digunakan untuk membenarkan kezaliman. Sebaliknya, pemahaman agama seharusnya mendorong seseorang semakin berhati-hati dalam menggunakan kekuasaan, harta, dan kepercayaan.

Karena itu, evaluasi terhadap diri sendiri menjadi penting. Apakah masih ada janji yang belum ditunaikan? Apakah ada hak pekerja yang tertunda? Apakah ada orang yang dirugikan karena keputusan yang kita ambil?

Mengembalikan Hak sebagai Bentuk Pertobatan

Ketika seseorang menyadari pernah merugikan orang lain, pertobatan tidak cukup hanya dengan penyesalan batin. Hak manusia yang telah diambil perlu dikembalikan sejauh memungkinkan, disertai permintaan maaf dan perbaikan nyata.

Prinsip tersebut menunjukkan bahwa pertanggungjawaban moral memiliki dimensi sosial. Kesalahan terhadap sesama manusia harus diselesaikan dengan memulihkan hak dan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan.

Kesimpulan

Hadis tentang tiga golongan yang menjadi musuh Allah pada hari kiamat menghadirkan peringatan serius mengenai bahaya mengkhianati amanah, merampas kebebasan manusia, dan menahan hak pekerja. Ketiga perbuatan tersebut memperlihatkan bagaimana keserakahan dan hilangnya empati dapat berubah menjadi kezaliman terhadap sesama.

Pesan hadis tetap relevan dalam kehidupan modern. Praktik perdagangan manusia, eksploitasi pekerja, pengingkaran janji, serta penyalahgunaan kepercayaan merupakan persoalan yang membutuhkan keberanian moral untuk dicegah.

Pada akhirnya, kualitas keberagamaan tidak hanya terlihat dari hubungan seseorang dengan Allah, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan manusia yang berada di sekitarnya. Menjaga amanah, menghormati kebebasan, dan memenuhi hak orang lain merupakan bagian penting dari jalan menuju keadilan dan keselamatan.

FAQ

  1. Siapa tiga golongan yang disebut menjadi musuh Allah pada hari kiamat? Tiga golongan tersebut adalah orang yang berkhianat setelah bersumpah atas nama Allah, orang yang memperjualbelikan manusia merdeka, dan orang yang mempekerjakan seseorang tetapi tidak membayar upahnya.
  2. Apa sumber hadis tentang tiga golongan tersebut? Hadis tersebut merupakan hadis Qudsi yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, termasuk riwayat yang dikenal dengan nomor 2227.
  3. Mengapa menahan upah pekerja mendapat peringatan keras? Karena upah merupakan hak pekerja yang berkaitan langsung dengan kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya sehingga menahannya secara zalim berarti merugikan kehidupan orang lain.
  4. Bagaimana relevansi hadis ini dengan kehidupan modern? Pesannya dapat diterapkan pada persoalan perdagangan manusia, eksploitasi tenaga kerja, pengingkaran kontrak, penipuan, dan berbagai bentuk penyalahgunaan kepercayaan.
  5. Apa yang harus dilakukan jika pernah merugikan hak orang lain? Selain memohon ampun kepada Allah, seseorang perlu berusaha mengembalikan hak yang dirampas, meminta maaf apabila diperlukan, dan memperbaiki kerugian yang telah ditimbulkan.

Topik Terkait

Trending Hari Ini