Profil & Institusi

Menilik Sejarah dan Transformasi Universitas Hasanuddin: Menuju Era Baru Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum

13 Juli 2026, 06:21 WIB / Azantha
Sumber unhas.ac.id dirapikan AI

Sumber unhas.ac.id dirapikan AI

MAKASSAR, KampusTimes.com - Universitas Hasanuddin (UNHAS) secara konsisten mengukuhkan posisinya sebagai episentrum pendidikan tinggi terkemuka di wilayah timur Indonesia. Berdiri resmi pada 10 September 1956 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, institusi ini memegang peranan krusial sebagai pionir akademik utama yang menaungi tiga provinsi sekaligus, meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara. Nama institusi ini diambil dari nama pahlawan nasional legendaris asal Sulawesi Selatan, Sultan Hasanuddin, yang tersohor lewat julukan ikonik "Ayam Jantan dari Timur". Pada tahun 2026 ini, Universitas Hasanuddin memasuki babak baru dalam sejarah tata kelola kelembagaannya dengan menjalankan secara penuh status sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), setelah menuntaskan fase uji coba sistem bersama belasan perguruan tinggi negeri lainnya di tanah air.

Langkah strategis berstatus PTNBH ini memberikan otonomi penuh bagi Unhas untuk melakukan modernisasi kurikulum serta penguatan riset berbasis kemandirian institusional yang kompetitif di kancah global.

Kronologi Sejarah: Dari Embrio Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia hingga Kampus Barayya

Akar kesejarahan Unhas berawal ketika Mohammad Hatta (Bung Hatta) masih menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tahun 1947, didirikan Fakultas Ekonomi di Makassar yang berstatus sebagai cabang resmi dari Universitas Indonesia (UI) Djakarta, berdasarkan keputusan Letnan Jenderal Gubernur Pemerintah Hindia Belanda Nomor 127 tanggal 23 Juli 1947. Di bawah kepemimpinan rektor pertamanya, Drs. L.A. Enthoven, aktivitas fakultas sempat dibekukan akibat ketidakpastian situasi keamanan di sekitar Makassar, sebelum akhirnya diaktifkan kembali pada 7 Oktober 1953 di bawah pimpinan Prof. Drs. G.H.M. Riekerk. Cikal bakal ini kian solid saat dipimpin oleh acting ketua Prof. Drs. Wolhoff dan sekretarisnya Drs. Mohammad Baga pada 1 September 1956, hingga memicu peresmian Unhas secara utuh pada 10 September 1956 melalui terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1956.

Sebelum peresmian tersebut, sebuah momentum krusial terjadi dalam rapat yang dihadiri oleh kalangan cendekiawan Sulawesi. Drs. H. La Ode Manarfa—putra Raja Buton ke-XXXVIII La Ode Falihi yang merupakan lulusan Universitas Leiden Belanda—secara khusus mengusulkan agar Unhas mengadopsi simbol "Ayam Jantan" dalam logonya. Gagasan ini berpijak pada memori kolektif keberanian Sultan Hasanuddin dari Kesultanan Gowa yang tidak pernah gentar menghadapi kolonialis Belanda layaknya ayam jago di arena laga. Usulan ini disetujui, disusul dengan penyelenggaraan sayembara yang melahirkan logo resmi Unhas yang dikenal luas hingga hari ini.

Infrastruktur awal perkuliahan Unhas kala itu dipusatkan di Kampus Barayya. Namun, lokasi Kampus Barayya yang berada di dekat kawasan kanal menjadikannya langganan banjir parah setiap kali musim hujan tiba. Akibatnya, pada periode tersebut, para dosen dan mahasiswa sering kali terpaksa harus menggunakan perahu untuk dapat menjangkau dan masuk ke dalam ruangan kelas guna melangsungkan aktivitas akademik.

Dinamika Regulasi Eksperimental dan Evolusi Enam Belas Fakultas

Perkembangan kelembagaan Unhas diwarnai dengan ekspansi disiplin ilmu secara bertahap. Melalui jerih payah para tokoh seperti Nuruddin Sahadat dan Mr. Tjia Kok Tjiang dalam wadah Yayasan Balai Perguruan Tinggi Sawerigading, Fakultas Hukum resmi memisahkan diri dari UI dan bergabung ke Unhas pada 10 September 1956. Disusul oleh Fakultas Kedokteran yang diresmikan oleh Menteri P dan K Prof. Mr. R. Soewandi pada 28 Januari 1956 sebelum diintegrasikan ke dalam Unhas. Secara berangsur-angsur, fakultas-fakultas baru terus lahir guna memenuhi kebutuhan pembangunan daerah:

  • Fakultas Teknik: Resmi berdiri melalui SK Menteri P dan K RI No. 88130/S tertanggal 8 September 1960.

  • Fakultas Sastra & Fakultas Sosial Politik: Terbentuk berturut-turut pada tahun 1960 dan 1961 melalui proses peleburan program kursus dan penegerian sekolah tinggi swasta.

  • Fakultas Pertanian & Fakultas Peternakan: Didirikan pada tahun 1962 dan 1964 atas kerja sama taktis dengan IPB.

  • Fakultas Kedokteran Gigi & Fakultas Kesehatan Masyarakat: Resmi dikukuhkan masing-masing pada tahun 1983 dan 1982 setelah melewati fase rintisan institut terpadu.

Dinamika unik sempat terjadi pada masa kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Ahmad Amiruddin. Berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0266/Q/1977, dilakukan kebijakan integrasi struktural berskala besar. Fakultas Sastra, Fakultas Ilmu Sosial Politik, dan Fakultas Ekonomi digabungkan ke dalam satu wadah bernama Fakultas Ilmu Sosial Budaya. Kebijakan serupa menyatukan Fakultas Teknik dan Fakultas MIPA menjadi Fakultas Sains dan Teknologi. Namun, Fakultas Hukum secara tegas menolak untuk dilebur ke dalam klaster sosial budaya tersebut. Enam tahun berselang, kebijakan integrasi eksperimental ini resmi dicabut melalui pemberlakuan PP Nomor 5 Tahun 1980 yang disusul dengan SK Presiden RI Nomor 68 Tahun 1982, mengembalikan status kemandirian masing-masing fakultas. Hingga tahun 2022, Universitas Hasanuddin tercatat telah mengasuh total 16 fakultas.

Modernisasi Infrastruktur: Pusat Klaster Tamalanrea dan Kampus Gowa

Guna memecahkan kendala banjir tahunan di Barayya serta mengadopsi lonjakan kuantitas mahasiswa, Rektor Prof. Dr. Ahmad Amiruddin menginisiasi relokasi besar-besaran. Tepat pada perayaan Dies Natalis ke-25 tertanggal 17 September 1981, Presiden RI Soeharto meresmikan Kampus Tamalanrea yang baru. Kompleks akademik modern ini dirancang secara makro oleh biro arsitektur Paddock Inc. dari Massachusetts, Amerika Serikat, dan dibangun oleh kontraktor OD 205 asal Belanda yang berkolaborasi dengan PT Sangkuriang Bandung di atas lahan seluas 220 hektare.

Ekspansi fisik terus berlanjut hingga ke wilayah penyangga. Unhas kini mengoperasikan kampus baru yang dibangun khusus untuk mengakomodasi seluruh kegiatan akademik Fakultas Teknik. Kompleks keteknikan ini memanfaatkan area bekas pabrik kertas di Kabupaten Gowa. Meskipun mulai dipergunakan secara bertahap sejak tahun 2006 di tengah renovasi dan pengadaan fasilitas yang berjalan paralel, klaster Gowa kini telah bertransformasi menjadi pusat riset rekayasa teknologi terpadu yang modern. Fleksibilitas ini memperkuat implementasi Pola Ilmiah Pokok (PIP) kelautan yang diwujudkan melalui pembukaan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan sejak tahun 1996.

Kesimpulan

Mengarungi lintasan sejarah yang panjang dari sebuah ruang kuliah banjir di Barayya hingga sukses mengeksekusi otonomi penuh PTNBH, Universitas Hasanuddin membuktikan ketangguhannya sebagai raksasa pendidikan di Indonesia Timur. Keseimbangan dalam mempertahankan akar historis kepahlawanan Sultan Hasanuddin, logo Ayam Jantan yang visioner, serta modernisasi klaster multikampus 220 hektare menjadikan Unhas sebagai institusi pendidikan tinggi yang sangat kredibel dalam melahirkan putra-putri bangsa yang kompetitif di kancah dunia.

FAQ

  1. Kapan Universitas Hasanuddin resmi didirikan dan apa cikal bakal awalnya?

    Unhas resmi didirikan pada 10 September 1956, di mana embrio awalnya merupakan pengembangan dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia cabang Makassar yang dirintis sejak 1947.

  2. Siapa tokoh yang mengusulkan simbol Ayam Jantan pada logo Universitas Hasanuddin?

    Simbol Ayam Jantan diusulkan oleh Drs. H. La Ode Manarfa, seorang cendekiawan sekaligus putra Raja Buton ke-XXXVIII, terinspirasi dari ketangguhan Sultan Hasanuddin dalam melawan Belanda.

  3. Mengapa Kampus Universitas Hasanuddin dipindahkan dari Barayya ke Tamalanrea?

    Perpindahan dilakukan pada awal tahun 1980-an di masa Rektor Prof. Dr. Ahmad Amiruddin karena Kampus Barayya yang dekat kanal merupakan langganan banjir parah, hingga mahasiswa harus menggunakan perahu.

  4. Di mana lokasi kampus baru Unhas yang dikhususkan untuk Fakultas Teknik?

    Kampus baru khusus Fakultas Teknik Unhas berlokasi di Kabupaten Gowa, memanfaatkan lahan yang dulunya merupakan bekas area pabrik kertas dan mulai digunakan sejak tahun 2006.

  5. Apa status kelembagaan baru yang dijalankan secara penuh oleh Unhas pada tahun ini?

    Pada tahun ini, Universitas Hasanuddin telah resmi menjalankan secara penuh statusnya sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) setelah melewati fase uji coba sistem.

Sumber Asli Berita: Artikel ini dikembangkan dan ditulis ulang secara independen berdasarkan laporan dokumentasi historis resmi institusi dan rangkuman ensiklopedia nasional id.wikipedia.org dengan judul asli "Universitas Hasanuddin" yang diperbarui dan dihimpun pada tahun 2026.

Topik Terkait

Trending Hari Ini