Jombang, Kampus Times - Pemanfaatan bahan alami sebagai alternatif pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) mulai mendapat perhatian dalam pengembangan pertanian yang lebih ramah lingkungan. Melalui program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM), mahasiswa Universitas KH.A. Wahab Hasbullah Tambakberas Jombang memperkenalkan pembuatan pestisida nabati dari daun tembakau dan bawang putih kepada masyarakat Desa Munungkerep, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Kegiatan yang berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026 tersebut melibatkan M. Fauzi Al Adhim, M. Salman Al Farizi, dan M. Zidan Zainal Mubarok. Program ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan praktis yang dapat diterapkan masyarakat dalam aktivitas pertanian.
Mengembangkan Alternatif Pengendalian Hama
Desa Munungkerep merupakan wilayah yang sebagian masyarakatnya menggantungkan kehidupan ekonomi pada sektor pertanian, termasuk tanaman tembakau. Dalam praktiknya, penggunaan pestisida kimia sintetis masih menjadi salah satu pilihan untuk mengendalikan hama dan organisme pengganggu tanaman.
Penggunaan pestisida kimia secara tidak tepat atau berlebihan dapat menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari pencemaran lingkungan, resistensi hama, gangguan terhadap organisme non-target, hingga risiko bagi kesehatan petani dan konsumen. Kondisi tersebut mendorong perlunya pengenalan alternatif pengendalian yang memanfaatkan sumber daya alami di sekitar masyarakat.
Pestisida nabati menjadi salah satu pilihan yang diperkenalkan melalui kegiatan pengabdian ini. Selain memanfaatkan bahan yang relatif mudah ditemukan, proses pembuatannya juga sederhana sehingga berpotensi dipraktikkan secara mandiri oleh masyarakat.
Karang Taruna Menjadi Sasaran Program
Kegiatan sosialisasi dan praktik pembuatan pestisida nabati ditujukan kepada Karang Taruna Desa Munungkerep. Kelompok ini dipilih karena memiliki potensi sebagai kelompok masyarakat yang adaptif terhadap inovasi serta dapat menjadi penggerak penerapan pengetahuan pertanian di lingkungan desa.
Hasil observasi awal menunjukkan bahwa peserta cukup aktif dalam kegiatan pertanian. Namun, pemanfaatan bahan alami sebagai alternatif pengendalian hama masih relatif terbatas.
Dari Sosialisasi hingga Praktik
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yakni observasi, penyusunan program, sosialisasi, penyampaian materi, demonstrasi, praktik pembuatan, diskusi, dan evaluasi. Pola kegiatan tersebut dirancang agar peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teoritis, tetapi juga memahami proses pembuatan secara langsung.
Pada sesi praktik, peserta diperkenalkan dengan bahan dan tahapan pembuatan pestisida nabati berbahan tembakau dan bawang putih. Komposisi yang digunakan terdiri atas 300 gram bawang putih, 600 gram tembakau kering rajangan, dan 6 liter air.
Bawang putih terlebih dahulu dihaluskan. Selanjutnya, bahan tersebut dicampurkan dengan tembakau dan air, kemudian diaduk hingga merata. Campuran didiamkan selama satu hari pada suhu ruang dan setelah itu disaring untuk memperoleh cairan pestisida nabati.
Peserta Antusias Mengikuti Kegiatan
Pelaksanaan program mendapatkan respons positif dari peserta. Karang Taruna menunjukkan antusiasme selama proses sosialisasi maupun praktik karena bahan yang digunakan relatif mudah diperoleh dan metode pembuatannya sederhana.
Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pemanfaatan tembakau dan bawang putih sebagai bahan pestisida nabati, tahapan pembuatannya, serta cara pemanfaatannya dalam kegiatan pertanian.
Meski demikian, evaluasi menunjukkan masih terdapat sejumlah tantangan. Pengetahuan peserta mengenai kandungan aktif tembakau dan bawang putih masih terbatas. Pada awal sesi diskusi, sebagian peserta juga belum terlalu aktif dan masih muncul keraguan mengenai efektivitas pestisida nabati.
Menjawab Kendala di Lapangan

Selain persoalan pemahaman, kegiatan juga menemukan permasalahan serangan jamur pada tanaman. Kondisi tersebut menjadi momentum untuk memberikan edukasi tambahan kepada peserta mengenai pengelolaan tanaman secara lebih menyeluruh.
Penanganan dilakukan melalui penjelasan ulang, ilustrasi, diskusi terbuka, serta arahan mengenai sanitasi lahan, pengaturan kelembapan, sirkulasi udara, dan penerapan pestisida nabati secara tepat. Dengan demikian, pengendalian OPT tidak hanya dipandang dari penggunaan pestisida, tetapi juga perlu didukung pengelolaan lingkungan pertanaman yang baik.
Potensi Keberlanjutan Program
Program pembuatan pestisida nabati memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut di Desa Munungkerep. Ketersediaan bahan baku di lingkungan sekitar menjadi salah satu faktor pendukung, sementara antusiasme peserta dapat menjadi modal sosial untuk keberlanjutan kegiatan.
Pendampingan lanjutan dapat dilakukan melalui pelatihan ulang, pembuatan lahan percontohan, serta monitoring penerapan pestisida nabati pada tanaman masyarakat. Langkah tersebut penting untuk memastikan pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi.
Program juga menghasilkan beberapa luaran, antara lain laporan pelaksanaan pengabdian, produk teknologi tepat guna berupa pestisida nabati dari tembakau dan bawang putih, serta artikel ilmiah hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Perlu Pengujian Lebih Sistematis
Untuk pengembangan berikutnya, efektivitas pestisida nabati perlu diuji secara lebih sistematis pada berbagai jenis tanaman dan hama. Penggunaan pre-test dan post-test juga dapat membantu mengukur peningkatan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan.
Pengamatan terhadap efektivitas produk di lahan percontohan menjadi langkah penting untuk memperoleh data yang lebih kuat. Dengan pendekatan tersebut, inovasi yang diperkenalkan dapat terus dievaluasi dan disesuaikan dengan kebutuhan petani.
Kesimpulan
Kegiatan KKN-PPM Universitas KH.A. Wahab Hasbullah di Desa Munungkerep menunjukkan bahwa pemanfaatan tembakau dan bawang putih dapat diperkenalkan sebagai alternatif bahan pestisida nabati melalui pendekatan edukasi dan praktik langsung.
Program ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Karang Taruna, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal untuk mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan. Ke depan, pendampingan, pengujian efektivitas, lahan percontohan, serta monitoring berkala diperlukan agar inovasi tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat.
Dosen Pembimbing Lapangan:
Aufia Aisa, M.Pd.I.
NUPTK. 3746768669230412
FAQ
- Apa bahan yang digunakan untuk membuat pestisida nabati? Bahan yang digunakan adalah 300 gram bawang putih, 600 gram tembakau kering rajangan, dan 6 liter air.
- Siapa sasaran kegiatan pengabdian ini? Sasaran utama kegiatan adalah Karang Taruna Desa Munungkerep, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang.
- Bagaimana proses pembuatan pestisida nabati tersebut? Bawang putih dihaluskan, kemudian dicampur dengan tembakau dan air, diaduk hingga merata, didiamkan selama satu hari pada suhu ruang, lalu disaring.
- Mengapa pestisida nabati diperkenalkan kepada masyarakat? Pestisida nabati diperkenalkan sebagai salah satu alternatif pengendalian OPT dengan memanfaatkan bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar.
- Bagaimana agar program dapat berkelanjutan? Program dapat dilanjutkan melalui pendampingan, pelatihan ulang, lahan percontohan, monitoring, serta pengujian efektivitas pada berbagai tanaman dan jenis hama.